Thursday, 10 September 2026
logo

Berita

Berita Utama

BP3MI Nusa Tenggara Timur Gandeng Gereja Perkuat Edukasi Pencegahan TPPO dan Migrasi Aman di GMIT Siloam Oebelo Kecil

-

00.07 28 July 2026 188

BP3MI Nusa Tenggara Timur sosialisasi migrasi aman di Gereja GMIT Siloam Oebelo Kecil, Kupang, Minggu (26/7/2026).

Kupang, KP2MI (28/7) - Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Nusa Tenggara Timur (NTT) terus memperluas kolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat dalam upaya mencegah Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dan penempatan Pekerja Migran Indonesia secara nonprosedural. Satu langkah tersebut diwujudkan melalui kegiatan sosialisasi bertema "Bersama Gereja Mewujudkan Lingkungan yang Aman, Bermartabat, dan Bebas dari Kekerasan serta Perdagangan Orang" yang diselenggarakan di Gereja GMIT Siloam Oebelo Kecil, Kabupaten Kupang, Minggu (26/7/2026).

Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala BP3MI Nusa Tenggara Timur, Suratmi Hamida, beserta jajaran, Tim Rumah Harapan GMIT, pendeta, serta umat Gereja GMIT Siloam Oebelo Kecil. Sosialisasi menjadi wadah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya migrasi yang aman sekaligus memperkuat peran gereja dalam melindungi masyarakat dari praktik perdagangan orang.

Dalam pemaparannya, Kepala BP3MI NTT menekankan pentingnya meningkatkan pemahaman masyarakat, khususnya tokoh agama dan jemaat, mengenai bahaya serta berbagai modus operandi Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO). Selain itu, peserta juga diberikan informasi mengenai tahapan legal untuk bekerja ke luar negeri, persyaratan menjadi Calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI), serta hak-hak yang dimiliki Pekerja Migran Indonesia sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

Kepala BP3MI NTT juga mengajak seluruh unsur gereja untuk mengambil peran aktif dalam memberikan edukasi kepada masyarakat. Menurutnya, jaringan kategorial gereja memiliki posisi strategis sebagai pusat penyebaran informasi yang benar mengenai peluang kerja ke luar negeri, sekaligus menjadi penyaring informasi dan sistem deteksi dini (early warning system) terhadap keberadaan calo atau pihak-pihak yang melakukan perekrutan secara ilegal di tingkat desa.

"Gereja memiliki kedekatan yang sangat kuat dengan masyarakat. Karena itu, kami berharap gereja dapat menjadi mitra strategis dalam menyampaikan informasi yang benar mengenai prosedur bekerja ke luar negeri, mengingatkan jemaat agar tidak mudah percaya pada tawaran kerja yang tidak jelas, serta bersama-sama membangun lingkungan yang aman, bermartabat, dan bebas dari perdagangan orang," ujar Suratmi Hamida.

Pada kesempatan tersebut, Kepala BP3MI NTT juga mengajak seluruh umat Gereja GMIT Siloam Oebelo Kecil untuk turut menyebarluaskan informasi mengenai program Peningkatan Kapasitas dalam rangka SMK Go Global yang akan segera diluncurkan oleh Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia. Program ini diharapkan dapat memperluas akses informasi dan meningkatkan kesiapan generasi muda, khususnya lulusan SMK, untuk bekerja di luar negeri secara profesional, kompeten, dan sesuai prosedur.

Melalui kolaborasi dengan lembaga keagamaan, BP3MI Nusa Tenggara Timur berharap edukasi mengenai migrasi aman dapat menjangkau masyarakat hingga ke tingkat akar rumput. Sinergi antara pemerintah, gereja, dan masyarakat diharapkan mampu memperkuat upaya pencegahan TPPO serta mewujudkan penempatan Pekerja Migran Indonesia yang aman, legal, dan terlindungi.* (Humas/BP3MI Nusa Tenggara Timur)