Monday, 20 July 2026
logo

Berita

Berita Utama

Krisdayantiku Malang, Krisdayantiku Sayang

-

00.06 5 June 2026 296

Krisdayantiku Malang, Krisdayantiku Sayang

Banjarbaru, KP2MI (05/06) - Malam telah turun sempurna di Bandara Syamsuddin Noor, Banjarbaru. Lampu-lampu terminal memantulkan cahaya pucat di lantai yang mengilap. Para penumpang datang dan pergi dengan langkah tergesa, sebagian disambut pelukan keluarga, sebagian lagi disambut harapan baru.

Di antara keramaian itu, seorang perempuan berjalan perlahan. Namanya Krisdayanti.

Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, nama itu mungkin segera mengingatkan pada sosok diva yang selama puluhan tahun menghiasi panggung hiburan tanah air. Namun Krisdayanti yang satu ini berbeda. Tak ada lampu sorot yang menunggunya. Tak ada tepuk tangan. Tak ada panggung megah.

Yang ada hanyalah sepasang mata sembap yang menyimpan lelah, cemas, dan rasa syukur karena masih bisa pulang dengan selamat.

Tas ransel kecil dipeluk erat di depan dada, seolah menjadi benteng terakhir yang tersisa. Langkahnya berat ketika keluar dari pintu kedatangan pada Senin malam itu. Ia baru saja melewati pengalaman yang nyaris mengubah hidupnya menjadi mimpi buruk.

Perempuan berusia tiga puluhan tahun itu hampir menjadi korban penempatan nonprosedural Pekerja Migran Indonesia ke Singapura.

“Saya cuma mau kerja, Pak. Saya tidak tahu kalau ternyata ini ilegal,” ucapnya lirih.

Kalimat itu meluncur pelan, nyaris tenggelam dalam hiruk-pikuk terminal. Namun di balik kesederhanaannya, tersimpan kisah panjang tentang kehilangan, kemiskinan, dan harapan yang membuat seseorang rela mengambil risiko apa pun demi masa depan keluarganya.

Bagi Krisdayanti, bekerja di luar negeri bukanlah impian baru. Dua tahun lalu, ia pernah mengadu nasib di Malaysia. Penghasilannya sekitar empat juta rupiah setiap bulan. Bagi sebagian orang, jumlah itu mungkin tampak biasa saja. Namun bagi Krisdayanti, uang tersebut menjadi penyambung hidup bagi keluarga kecilnya.

Meski demikian, setiap hari ia hidup dalam kecemasan. Ia selalu khawatir identitasnya diperiksa. Khawatir tertangkap. Khawatir dipulangkan secara paksa.

“Saya selalu was-was,” kenangnya.

Tetapi rasa takut sering kali kalah oleh tuntutan hidup. Apalagi setelah bencana besar mengubah seluruh jalan hidupnya.

Tahun-tahun lalu, ketika tsunami menghantam Palu, gelombang raksasa itu tidak hanya menghancurkan rumah dan harta benda. Ombak juga merenggut orang yang paling dicintainya: sang suami.

Sejak hari itu, hidup Krisdayanti berubah. Status janda dan tulang punggung keluarga melekat bersamaan di pundaknya.

Bersama anaknya yang masih kecil, ibu, dan adiknya, ia kemudian memulai kehidupan baru di Kalimantan Selatan. Mereka tinggal di rumah sewa sederhana di Banjarbaru. Hari-hari berjalan dalam hitung-hitungan kebutuhan pokok, uang sekolah, biaya hidup, dan sewa rumah yang terus menunggu dibayar.

Dalam situasi seperti itu, harapan sering datang dalam bentuk yang paling menggoda janji pekerjaan dengan penghasilan besar dan proses yang mudah.

Suatu hari, sebuah akun media sosial menawarkan peluang bekerja ke Singapura. Prosesnya terdengar sederhana. Tak banyak syarat. Tak banyak pertanyaan. Tak ada birokrasi yang rumit.

Bagi orang yang sedang berjuang memenuhi kebutuhan hidup, kemudahan seperti itu terdengar seperti jalan keluar.

Krisdayanti mempercayainya. Melalui seseorang yang dikenalnya sebagai Pak Anas di Tulungagung, Jawa Timur, seluruh proses mulai berjalan.

Pada 8 April 2026, ibunya mengantar kepergiannya di Bandara Syamsuddin Noor.

Air mata mengiringi perpisahan itu. Bukan karena takut. Melainkan karena harapan. Sang ibu percaya, keberangkatan putrinya kali ini akan menjadi awal kehidupan yang lebih baik bagi keluarga mereka.

Tak seorang pun menyangka bahwa di balik kemudahan yang ditawarkan, tersimpan ancaman eksploitasi dan risiko tindak pidana perdagangan orang.

Beruntung, sebelum keberangkatan ke Singapura terlaksana, petugas Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Jawa Timur berhasil melakukan pencegahan di sebuah rumah penampungan di Kediri.

Langkah itu mungkin terasa mengecewakan saat itu. Namun justru menjadi penyelamat. Kini Krisdayanti telah kembali ke Banjarbaru.

Bukan sebagai pekerja migran yang sukses membawa pulang tabungan.
Bukan pula sebagai pahlawan keluarga yang pulang membawa hadiah.

Ia kembali hanya dengan pakaian yang dikenakan dan pengalaman pahit yang membekas.Namun, satu hal yang jauh lebih berharga masih dimilikinya adalah keselamatan.

“Untuk sementara saya cari kerja di sini saja dulu. Apa saja yang penting halal,” katanya sambil berusaha tersenyum.

Di luar terminal, malam semakin larut. Di rumah sewa sederhana yang menantinya, keluarga telah berkumpul. Tidak ada kemarahan. Tidak ada tudingan. Tidak ada penghakiman.

Bagi mereka, Krisdayanti yang pulang dalam keadaan selamat adalah anugerah yang tidak ternilai. Kisah Krisdayanti bukanlah cerita yang berdiri sendiri.

Di berbagai daerah, masih banyak warga yang tergoda tawaran bekerja ke luar negeri melalui jalur-jalur yang tidak sesuai prosedur. Media sosial menjadi ruang yang subur bagi iklan-iklan pekerjaan yang tampak meyakinkan, terutama bagi mereka yang sedang berada dalam tekanan ekonomi.

Padahal, di balik janji gaji besar dan proses cepat, kerap tersembunyi risiko eksploitasi, kekerasan, hingga perdagangan orang. Karena itu, negara terus hadir untuk mencegah semakin banyak warga terjebak dalam praktik-praktik tersebut.

“Kami terus mengupayakan edukasi secara luas ke desa-desa, kampus, dan komunitas masyarakat bahwa peluang kerja di luar negeri memang terbuka lebar. Namun agar dapat bekerja dengan aman dan nyaman, prosesnya harus sesuai aturan yang berlaku,” ujar Andry Suryadi, Pelaksana Tugas Kepala Subbagian Tata Usaha BP3MI Kalimantan Selatan.

Senada dengan itu, Penyidik Pegawai Negeri Sipil BP3MI Kalimantan Selatan, Erwan Permana, menegaskan bahwa pihaknya akan terus mengawal perkembangan kasus ini dan berkoordinasi dengan BP3MI Jawa Timur agar pihak-pihak yang diduga melakukan penempatan nonprosedural dapat ditindak sesuai ketentuan hukum.

Malam itu, Krisdayanti akhirnya pulang. Mungkin ia belum membawa perubahan besar bagi keluarganya.
Mungkin ia masih harus kembali memikirkan biaya hidup esok hari.
Tetapi setidaknya, ia masih memiliki kesempatan untuk memulai lagi.

Sebab tidak semua orang yang terjebak dalam jerat penempatan nonprosedural memiliki akhir cerita yang sama. Sebagian kehilangan tabungan. Sebagian kehilangan kebebasan. Sebagian bahkan kehilangan nyawa.

Kisah Krisdayanti menjadi pengingat bahwa di balik setiap angka statistik pekerja migran, selalu ada manusia dengan harapan, ketakutan, dan keluarga yang menunggu di rumah.

Dan selama masih ada mereka yang memanfaatkan kerentanan masyarakat demi keuntungan pribadi, upaya pelindungan harus terus dilakukan.

Agar tidak ada lagi harapan yang patah sebelum sempat tumbuh. Agar tidak ada lagi air mata yang jatuh karena mimpi yang disesatkan. Dan agar setiap warga negara yang ingin bekerja di luar negeri dapat berangkat dengan aman, bermartabat, dan pulang dengan selamat.**(Humas/BP3MI Kalimantan Selatan)