Wednesday, 18 March 2026
logo

Berita

Berita Utama

BP3MI D.I. Yogyakarta Bahas Penguatan Pemberdayaan Pekerja Migran bersama Kementerian PPN/Bappenas RI

-

00.03 17 March 2026 31

BP3MI D.I. Yogyakarta Bahas Penguatan Pemberdayaan Pekerja Migran bersama Kementerian PPN/Bappenas RI

Sleman, KP2MI (17/3) – Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) D.I. Yogyakarta menerima kunjungan Tim Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia dalam rangka observasi dan diskusi terkait pemberdayaan Pekerja Migran Indonesia dan keluarganya, Selasa (17/3/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Ruang Sambisari, Sleman, Yogyakarta ini dipimpin oleh Deputi Pemberdayaan Masyarakat, Kependudukan dan Ketenagakerjaan Kementerian PPN/Bappenas RI, Maliki, dan disambut oleh Kepala BP3MI D.I. Yogyakarta, Muhammad Ilyas Prakananda, bersama Tim Pemberdayaan BP3MI D.I. Yogyakarta.

Kunjungan ini bertujuan untuk menggali informasi lebih dalam mengenai pelaksanaan program pemberdayaan Pekerja Migran Indonesia dan keluarga, khususnya di wilayah D.I. Yogyakarta. Dalam kesempatan tersebut, Maliki menyampaikan pentingnya standarisasi program pemberdayaan yang tidak hanya berfokus pada pelatihan, tetapi juga didukung dengan akses permodalan serta pendampingan berkelanjutan dari pemerintah.

“Kami berharap program pemberdayaan ke depan memiliki standar yang lebih komprehensif, tidak hanya pelatihan, tetapi juga dukungan modal dan pendampingan agar memberikan dampak nyata bagi Purna Pekerja Migran Indonesia,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala BP3MI D.I. Yogyakarta, Muhammad Ilyas Prakananda, menyampaikan bahwa pihaknya secara konsisten telah melaksanakan program pemberdayaan melalui pelatihan kewirausahaan bagi Purna Pekerja Migran Indonesia dan keluarga sejak tahun 2018 hingga 2025.

“Selama kurun waktu tersebut, BP3MI D.I. Yogyakarta telah melatih sebanyak 620 Purna Pekerja Migran Indonesia dan keluarga. Selain itu, saat ini terdapat delapan komunitas Purna Pekerja Migran Indonesia yang aktif mendukung penyediaan calon peserta program pemberdayaan,” jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa keberadaan Desa Migran Emas turut membantu dalam pendataan Purna Pekerja Migran Indonesia yang baru kembali dari negara penempatan, sehingga memudahkan pelaksanaan program pemberdayaan secara lebih terarah.

Dalam diskusi tersebut turut hadir Ketua Himpunan Pengusaha Purna Pekerja Migran Indonesia (HP3MI) sekaligus Ketua Asosiasi Purna Pekerja Migran Indonesia Korea (APPIK), Bambang Sutrisno, serta Ketua Perkumpulan Wirausahawan (PERWIRA) Pekerja Migran Indonesia D.I. Yogyakarta, Agus Sugiarto. Keduanya berbagi pengalaman mengenai perjalanan menjadi pekerja migran hingga berhasil menjadi wirausahawan, termasuk berbagai tantangan yang dihadapi.

Bambang Sutrisno menyampaikan harapannya agar pemerintah dapat memberikan dukungan permodalan bagi Purna Pekerja Migran Indonesia yang ingin berwirausaha, serta membuka peluang kerja di perusahaan asing dalam negeri bagi yang tidak memilih jalur usaha mandiri.

Sementara itu, Agus Sugiarto mengapresiasi peran BP3MI D.I. Yogyakarta dalam memfasilitasi pelatihan bagi Purna Pekerja Migran Indonesia.

“Pelatihan yang diberikan sangat bermanfaat karena selain menambah wawasan, juga membuka peluang jejaring antar Purna Pekerja Migran Indonesia. Ke depan, kami berharap ada penguatan pada aspek kesehatan mental bagi Purna Pekerja Migran Indonesia,” ujarnya.

Ketua Tim Pemberdayaan BP3MI D.I. Yogyakarta, Raisha Noorfithriani, turut menyampaikan berbagai tantangan dalam pelaksanaan program pemberdayaan, serta harapan agar diskusi ini dapat menjadi langkah awal dalam meminimalisir kendala yang dihadapi di lapangan.

Melalui kegiatan ini, BP3MI D.I. Yogyakarta menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat program pemberdayaan Pekerja Migran Indonesia dan keluarganya melalui sinergi lintas sektor, guna menciptakan kemandirian ekonomi serta meningkatkan kesejahteraan Purna Pekerja Migran Indonesia.