Kementerian P2MI dan IBI Kosgoro 1957 Sepakati Sinergi Strategis Tingkatkan Kualitas Daya Saing Pekerja Migran
-
KemenP2MI dan IBI Kosgoro 1957 Sepakati Sinergi Strategis Tingkatkan Kualitas Daya Saing Pekerja Migran pada Selasa (06/01/2026)
Jakarta, KemenP2MI (6/1) – Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia Mukhtarudin menerima audiensi delegasi dari Institut Bisnis dan Informatika Kosgoro 1957 (IBI-K57) di Kantor Kementerian P2MI, Jakarta Selatan, pada Selasa 6 Januari 2026.
Pertemuan ini merupakan langkah konkret sinergi antara pemerintah dan perguruan tinggi untuk memanfaatkan bonus demografi Indonesia, sekaligus menjawab tingginya permintaan tenaga kerja terampil dari pasar global.
Kementerian P2MI, yang baru saja ditingkatkan statusnya menjadi kementerian berdasarkan Perpres Nomor 139 Tahun 2024 tentang Penataan Tugas dan Fungsi Kementerian Negara Kabinet Merah Putih, menekankan pendekatan holistik "dari hulu ke hilir" dalam pengelolaan pekerja Migran Indonesia.
IBI-K57 dipimpin langsung oleh Rektor Haswan Yunaz, didampingi Wakil Rektor I Dodi Wahab, Wakil Rektor II Tagor Rambey, dan Wakil Rektor III Enny Widayati.
Sementara itu, Menteri Mukhtarudin didampingi Sekretaris Jenderal Komjen Dwiyono serta Direktur Jenderal Penempatan Ahnas.
IBI-K57, yang berdiri sejak 1990 (awalnya sebagai STIMA Kosgoro) dan berubah menjadi institut pada 2012, fokus pada pendidikan bisnis, informatika, dan kewirausahaan berbasis ICT. Institusi ini dikenal aktif dalam program kewirausahaan pemuda dan sedang mempersiapkan peningkatan status menjadi universitas.
Dalam pembahasan dan potensi kerja sama Kementerian P2MI dan Kosgoro 1957 sepakat menjajaki kolaborasi strategis, termasuk Pelibatan mahasiswa dan alumni IBI-K57 dalam Program Quick Win Penempatan Pekerja Migran melalui mekanisme pelatihan vokasi, uji kompetensi, dan sertifikasi yang difasilitasi Kementerian P2MI.
Selain itu, partisipasi dosen dan mahasiswa dalam edukasi migrasi aman, diseminasi peluang kerja luar negeri, serta penguatan kompetensi pra-penempatan seperti penguasaan bahasa asing (Inggris, Mandarin, Arab, Korea, Jepang), komunikasi lintas budaya, etos kerja global, dan literasi keuangan.
Usulan spesifik dari Rektor Haswan Yunaz yakni Program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) secara daring untuk Pekerja Migran yang sedang bekerja di luar negeri, guna peningkatan kualifikasi akademik dan karir, program literasi Keuangan dan Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik untuk mengubah pola konsumtif keluarga Pekerja Migran menjadi produktif melalui pendampingan usaha mikro di desa.
Sinergi ini selaras dengan karakter IBI-K57 yang menekankan jiwa entrepreneurship dan kemampuan bahasa Inggris (minimal TOEFL 450).
Sinergi Kelembagaan
Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Mukhtarudin menekankan pentingnya sinergi antar kelembagaan dalam mengoptimalkan penempatan dan penguatan pekerja migran Indonesia.
Menteri Mukhtarudin menyebut pertemuan dengan IBI Kosgoro 1957 sebagai simbiosis mutualisme yang saling menguntungkan bagi bangsa dan negara.
Mukhtarudin menjelaskan bahwa saat ini, penempatan Pekerja migran telah difokuskan pada tenaga kerja profesional dan berketerampilan tinggi.
"Baik pekerja domestik di bidang asisten rumah tangga maupun pekerja migran lainnya, semuanya sudah kita tempatkan yang profesional. Kita Kementerian P2MI telah melakukan profiling dan penyisiran berdasarkan jenis pekerjaan serta kompetensinya," ujar Menteri Mukhtarudin.
Pekerja migran Indonesia kini banyak ditempatkan di berbagai sektor di luar negeri, seperti kesehatan, manufaktur, perikanan (fishing), hospitality, dan welder.
"Demand dari negara tujuan sangat tinggi untuk skilled workers. Tidak ada lagi yang non-skilled, bahkan domestic worker pun harus memiliki keterampilan," beber Mukhtarudin.
Namun, Mukhtarudin mengakui tantangan utama adalah pasokan (supply) tenaga kerja terampil dari Indonesia masih rendah dibandingkan permintaan global.
"Kenapa demikian? Karena kita belum sepenuhnya siap dalam meningkatkan kapasitas. Yang paling mendasar adalah kekurangan kemampuan bahasa," katanya.
Menurut Mukhtarudin, negara tujuan seperti Korea Selatan dan Jepang menuntut penguasaan bahasa Korea atau Jepang. Begitu pula untuk Taiwan dan Hong Kong yang memerlukan bahasa Mandarin, Eropa yang membutuhkan bahasa Inggris, serta Timur Tengah yang memerlukan bahasa Arab.
"Setidaknya ada lima bahasa utama yang harus dikuasai bahasa inggris, Mandarin, Arab, Korea, dan Jepang," cetus Menteri Mukhtarudin.
Fenomena ini dipicu oleh aging population di banyak negara Eropa dan Asia, di mana populasi usia produktif menurun, sehingga membutuhkan tenaga kerja dari luar. Sementara itu, Indonesia sedang menuju puncak bonus demografi pada 2030-an, di mana usia produktif akan mendominasi dibandingkan usia non-produktif.
"Kita harus memanfaatkan ini sebagai peluang. Ciptakan lapangan kerja di dalam negeri sebanyak mungkin, tapi sisanya harus kita optimalkan untuk pasar luar negeri agar bonus demografi tidak menjadi bencana demografi," pungkas Mukhtarudin.
Pemerintah melalui Kementerian P2MI berkomitmen meningkatkan kapasitas Pekerja Migran melalui pelatihan bahasa dan keterampilan, serta sinergi dengan berbagai pihak untuk memastikan penempatan yang prosedural dan bermartabat. Hal ini sejalan dengan target penempatan ratusan ribu Pekerja Migran berkualitas di tahun-tahun mendatang.
Menteri Mukhtarudin memaparkan data terkini dari SISKOP2MI per 1 Januari 2026, total lowongan kerja luar negeri 344.453 yang telah dilamar baru sekitar 18,8% (64.908).
"Jadi, masih tersedia 81,2% atau sekitar 279.545 orang," beber Menteri Mukhtarudin.
Data ini konsisten dengan pemetaan Kementerian P2MI yang mencatat sekitar 350.000 lowongan resmi global sepanjang 2025-2026, dengan demand tinggi untuk skilled workers di sektor kesehatan (perawat), manufaktur, perikanan (ABK), hospitality, dan welding.
Namun, Menteri Mukhtarudin mengaku penyerapan dari Indonesia masih rendah karena gap kompetensi, terutama bahasa asing dan skill vokasi.
Mukhtarudin menekankan fenomena aging population di negara maju (seperti Jepang, Korea, Eropa) yang berbanding terbalik dengan bonus demografi Indonesia.
Proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan penduduk usia produktif (15-64 tahun) mencapai puncak sekitar 194-196 juta pada 2025, dengan dependency ratio terendah (~44-45%). Jumlah ini diproyeksikan terus meningkat hingga mendekati 213 juta pada 2045, menjadi modal utama menuju Indonesia Emas 2045.
Prioritas Kementerian P2MI meliputi perlindungan menyeluruh (pra-penempatan, selama bekerja, hingga purna tugas), peningkatan high skill melalui Sekolah Vokasi Migran, dan target quick win Presiden Prabowo, penempatan 500.000 Pekerja migran profesional tahun ini.
"Artinya peningkatan kualitas Pekerja migran bukan hanya menjawab kebutuhan global, tapi juga mencegah bonus demografi menjadi bencana demografi," pungkas Menteri P2MI Mukhtarudin.
Rektor Haswan Yunaz mengatakan bahwa peningkatan kualitas pekerja migran Indonesia merupakan kunci dalam menjawab kebutuhan pasar kerja global sekaligus mendukung kebijakan pemerintah dalam penempatan dan pelindungan pekerja migran.
"Untuk itu, Pak Menteri, penyiapan calon pekerja migran perlu dilakukan secara menyeluruh dan terintegrasi sejak pra-penempatan," imbuh Haswan.
Menurut Haswan, tujuan IBI Kosgoro 1957 bekerkolaborasi dengan Kementerian P2MI ini agar calon pekerja migran dapat meningkatkan kualitas akademik, daya saing, serta peluang pengembangan karir mereka tanpa meninggalkan pekerjaan yang sedang dijalani.
Haswan berharap kolaborasi ini akan menghasilkan Pekerja Migran yang tidak hanya kompeten, tapi juga mandiri secara finansial dan berwirausaha saat pulang.
Pertemuan ditutup dengan komitmen menuju penandatanganan MoU dalam waktu dekat. Sinergi ini diharapkan menjadi model bagi perguruan tinggi lain, mendukung visi Kementerian P2MI untuk menjadikan Pekerja Migran Aman, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju berdaya saing tinggi. **(Humas)