Wednesday, 6 May 2026
logo

Berita

Berita Utama

Sinergi Strategis Lemhannas RI & KP2MI: Wawasan Kebangsaan Sebagai ‘Perisai’ Pekerja Migran Indonesia

-

00.05 5 May 2026 34

Menteri P2MI Mukhtarudin Gubernur dan Wamen P2MI Christina Aryani bersama Lemhannas RI TB. Ace Hasan Syadzily (5/5/2026).

Jakarta, KP2MI (5/5) - Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) resmi memperkuat kurikulum pembekalan bagi Calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI) dengan fokus pada penguatan Wawasan Kebangsaan.

Langkah ini disahkan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dengan Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI di Jakarta Pusat, Selasa 5 Mei 2026.

Penandatanganan dilakukan oleh Menteri P2MI Mukhtarudin dan Gubernur Lemhannas RI TB. Ace Hasan Syadzily, disaksikan oleh Wamen P2MI Christina Aryani, Sekjen KP2MI Komjen Pol Dwiyono, Wagub Lemhannas Laksdya TNI Erwin S. Aldedharma, serta jajaran pimpinan tinggi kedua lembaga.

Menteri P2MI Mukhtarudin, menegaskan bahwa penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dengan Lemhannas RI bukan sekadar kerja sama administratif, melainkan upaya proteksi ideologi dan mental bagi para Pekerja Migran Indonesia.

Menurutnya, Calon Pekerja Migran tidak boleh hanya dibekali dengan keterampilan teknis (hard skills), tetapi juga harus memiliki kecintaan yang kokoh terhadap tanah air.

Identitas Nasional Sebagai Alat Diplomasi

Mukhtarudin menjelaskan konsep Soft Diplomacy, dengan mengirimkan tenaga kerja yang memiliki wawasan kebangsaan kuat, Indonesia menunjukkan kepada dunia bahwa pekerja migran adalah individu yang disiplin, berintegritas, dan membawa nilai-nilai luhur bangsa.

“Kita ingin Pekerja Migran kita menjadi duta bangsa yang sesungguhnya. Saat mereka berada di luar negeri, mereka membawa bendera Merah Putih di dadanya. Wawasan kebangsaan inilah yang akan menjadi perisai agar mereka tidak mudah terpapar paham-paham radikal atau pengaruh asing yang merugikan,” ujar Mukhtarudin.

Wawasan Kebangsaan Lindungi Pekerja Migran

Menteri Mukhtarudin menekankan pentingnya pembekalan Wawasan Kebangsaan yang masif bagi setiap Calon Pekerja Migran Indonesia sebelum bertolak ke negara penempatan. 

Hal ini dinilai mendesak mengingat durasi kerja di luar negeri yang cukup lama membuat mereka rentan terhadap pengaruh nilai-nilai baru dan ideologi asing.

Mukhtarudin juga menyoroti dinamika sosial yang akan dihadapi Pekerja Migran selama bekerja dua hingga tiga tahun di luar negeri. Ia menjelaskan bahwa lingkungan kerja internasional membawa risiko masuknya pemahaman yang bisa mengikis rasa cinta tanah air.

"Mereka bekerja di luar negeri dua sampai tiga tahun, bahkan lebih. Setiap hari mereka bertemu dengan pemahaman dan nilai-nilai baru di sana. Ideologi macam-macam ada di sana. Jadi, sangat perlu penguatan Wawasan Kebangsaan dan cinta tanah air bagi Calon Pekerja Migran kita sebelum ke luar negeri," tegas Mukhtarudin.

Kolaborasi dengan Lemhannas

Melalui kerja sama dengan Lemhannas, Kementerian P2MI ingin memastikan bahwa Pekerja Migran memiliki "filter" atau penyaring mental yang kuat. Wawasan kebangsaan diharapkan menjadi jangkar agar para pekerja tetap memegang teguh jati diri Indonesia meskipun berada di tengah keberagaman budaya dan ideologi global.

Strategi penguatan bagi para pekerja migran dilakukan melalui pendekatan yang komprehensif, dimulai dari aspek literasi ideologi untuk membekali mereka dengan pemahaman dasar ketahanan nasional agar tidak mudah terhasut oleh paham radikal atau nilai-nilai yang bertentangan dengan Pancasila. 

"Penguatan mentalitas menjadi prioritas guna membangun rasa bangga sebagai warga negara Indonesia, sehingga setiap pekerja Migran mampu menjaga martabat bangsa dan menjadi duta negara di mata masyarakat internasional," beber Menteri P2MI.

Sebagai langkah keberlanjutan, pemerintah juga tengah menyiapkan dukungan jarak jauh berupa materi wawasan kebangsaan dalam format digital yang dapat diakses secara berkala, berfungsi sebagai pengingat identitas nasional yang kokoh selama mereka berjuang di tanah rantau.

Langkah ini mempertegas visi Kementerian P2MI untuk mencetak pekerja migran yang tidak hanya ahli secara profesional (skilled workers, tetapi juga memiliki integritas kebangsaan yang tidak tergoyahkan.

Integrasi dalam Orientasi Pra-Pemberangkatan (OPP)

Kerja sama ini akan mengintegrasikan materi dari Lemhannas ke dalam sistem Orientasi Pra-Pemberangkatan (OPP). Mengingat waktu orientasi yang sangat terbatas satu hingga lima hari, Kementerian P2MI bersama Lemhannas RI akan mengemas materi wawasan kebangsaan secara ringkas namun mendalam melalui format digital dan buku saku.

"Para Pekerja Migran kita dapat memiliki pegangan nilai yang kuat. Ini adalah bagian dari upaya kita menyiapkan skilled workers yang berkarakter,” tandas Menteri Mukhtarudin.

Lemhannas RI dan KP2MI Perkuat Nilai Kebangsaan

Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI, Ace Hasan Syadzily, menekankan pentingnya kolaborasi strategis antar lembaga dalam menghadapi tantangan geopolitik global yang kian kompleks.

Ace Hasan Syadzily menyatakan bahwa kerja sama ini bukan sekadar seremoni, melainkan langkah konkret untuk merespons dinamika global yang bergeser dari unipolar menuju multipolar.

Respon Cepat Terhadap Dinamika Geopolitik

Gubernur Lemhannas menyoroti landscape politik internasional yang kini cenderung mengarah pada unitarianisme dan realisme, di mana kepentingan nasional masing-masing negara menjadi prioritas utama.

Kebijakan luar negeri negara-negara besar serta konflik yang masih berlangsung, seperti Rusia-Ukraina dan ketegangan di Timur Tengah, dinilai berdampak langsung pada rantai pasok dan ekonomi global.

"Penting sekali bagi kita untuk terus berkolaborasi memperkuat pertahanan masyarakat. Kerja sama dengan KP2MI ini adalah wujud komitmen bersama dalam membangun visi yang sama, guna mewujudkan tujuan nasional dan program prioritas Asta Cita Bapak Presiden," ujar Ace Hasan.

SDM Unggul dan Ideologi Kebangsaan

Salah satu poin krusial dalam kerja sama ini adalah penguatan Sumber Daya Manusia (SDM). Ace menekankan bahwa pekerja migran Indonesia bukan hanya harus unggul secara intelektual dan keterampilan, tetapi juga memiliki karakter kebangsaan yang kuat.

"Kita ingin mendorong agar mereka memiliki karakter negara yang terintegrasi dengan ideologi kebangsaan. Hal ini menjadi tanggung jawab kita bersama, termasuk bagi para tenaga kerja yang berada di bawah naungan KP2MI," beber Ace.

Strategi Re-Branding: Menuju Sektor Formal dan Profesional

Ace Hasan memberikan apresiasi tinggi terhadap langkah Menteri P2MI Mukhtarudin dalam melakukan re-branding terhadap citra Pekerja Migran Indonesia. Karena, selama ini, profesi pekerja migran sering kali diasosiasikan dengan sektor domestik atau informal.

Melalui kolaborasi dengan berbagai perguruan tinggi dan kementerian terkait, pemerintah berupaya menggeser paradigma tersebut.

 "Apa yang dipersiapkan bukan lagi hanya tenaga asisten rumah tangga (ART), tetapi pekerja pada sektor-sektor profesional atau top leader yang memiliki nilai tambah tinggi," tegas Ace.

Kontribusi Ekonomi yang Signifikan

Berdasarkan data yang dipaparkan, penempatan tenaga kerja global memberikan kontribusi yang sangat besar bagi devisa negara.

Gubernur Lemhannas menyebutkan angka kontribusi ekonomi yang masif, yang mempertegas bahwa KP2MI adalah kementerian yang sangat strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus menciptakan lapangan kerja yang berkualitas.

Ace Hasan berharap program pendidikan singkat dan penguatan nilai kebangsaan yang akan ditindaklanjuti oleh Mayor Jenderal TNI Raden Djaenudin Selamet (Deputi Bidang Pemantapan Nilai-Nilai Kebangsaan) dapat segera diimplementasikan.

Sinergi KP2MI dan Lemhannas RI diharapkan mampu menciptakan ekosistem perlindungan Pekerja Migran yang lebih komprehensif, mencakup aspek keterampilan, finansial, hingga ketahanan ideologi. **(Humas)