Berbekal 200 Ribu Ketika Sampai Madinah, Indra Rusliawan Kini Jadi Juragan Beromzet Puluhan Juta Rupiah
-
Pekerja Migran Indonesia purna, Indra Rusliawan, yang kini menjadi pengusaha dengan omzet puluhan juta rupiah.
Jakarta, KP2MI (17/4) - Berangkat ke luar negeri hanya dengan bekal awal Rp 200 ribu, Indra Rusliawan menjadi salah satu contoh nyata keberhasilan Pekerja Migran Indonesia purna dalam membangun usaha secara mandiri.
"Pada saat itu, saya membawa bekal hanya 200 ribu ketika sampai di Madinah. Bekal ini diluar tiket pesawat." ungkap Indra ketika dihubungi Humas KP2MI melalu selularnya, Selasa 14/4/2026.
Pengalaman bekerja di Madinah, Arab Saudi, tidak hanya memberikan penghasilan, tetapi juga membentuk karakter disiplin, etos kerja, dan visi kewirausahaan yang kuat.
Perjalanan Indra dimulai pada awal 2001-an. ketika ia mendapat kesempatan bekerja sebagai pastry chef di Madinah. Berbekal keterampilan di bidang bakery, ia mampu beradaptasi dengan baik meski sedikit menghadapi kendala bahasa.
Selama kurang lebih 2,5 tahun bekerja, ia memanfaatkan penghasilannya secara bijak—menyisihkan untuk kebutuhan hidup, mengirimkan kepada keluarga di Indonesia, hingga mulai mencicil rumah.
“Tantangan terbesar bukan hanya di pekerjaan, tetapi bagaimana kita mengelola keuangan dan memiliki tujuan ke depan,” ujarnya.
Pengalaman tersebut menjadi fondasi ketika ia kembali ke Indonesia pada 2004. Indra melanjutkan karier di sektor kuliner sebagai kepala dapur di Semarang dan kemudian sebagai kepala bakery di Bandung selama tujuh tahun. Kompetensi dan pengalaman yang dimiliki menjadi modal kuat dalam memulai usaha mandiri.
Pada 2012, Indra mulai merintis usaha bakery rumahan dengan nama Dad’s Recipe. Usaha tersebut berkembang pesat dan mendorongnya untuk fokus penuh sebagai wirausaha.
Seiring waktu, ia memperluas usahanya dengan membuka kedai “Kopi & Chicken Brother” di Depok, Usahanya kini mampu mencatatkan omzet sekitar Rp25–30 juta per bulan. Bahkan pada periode tertentu seperti bulan Ramadan, jumlah pesanan dapat meningkat signifikan hingga mencapai 200-300 box, menunjukkan pertumbuhan usaha yang konsisten.
Dalam proses pengembangan usaha, peran Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) menjadi bagian penting dalam perjalanan Indra. Sejak 2015, ia aktif mengikuti berbagai pelatihan, bimbingan teknis, serta program pemberdayaan untuk Pekerja Migran Indonesia purna.
Indra secara langsung merasakan manfaat dari dukungan tersebut, melalui pelatihan dan bimbingan teknis, ia memperoleh pengetahuan baru, memperluas jejaring, serta mendapatkan kesempatan untuk berbagi pengalaman dengan sesama Pekerja Migran Indonesia purna. Dukungan tersebut turut mendorong kepercayaan dirinya dalam mengembangkan usaha secara berkelanjutan.
“Banyak ilmu dan relasi yang saya dapatkan. Bahkan saya juga diberi kesempatan untuk menjadi narasumber dan berbagi pengalaman kepada Pekerja Migran Indonesia purna lainnya,” ungkapnya.
Ia juga mengaku bangga dengan latar belakangnya sebagai pekerja migran.
“Saya bangga mengatakan bahwa saya pekerja migran purna. Karena dari situ saya belajar banyak hal—disiplin, kerja keras, dan mental yang kuat,” tambahnya.
Selain mengembangkan usaha, Indra juga aktif dalam kegiatan komunitas.
Sejak 2019, ia dipercaya menjadi Ketua Asosiasi UMKM Kota Depok, yang membina pelaku usaha di berbagai wilayah. Peran ini memperluas kontribusinya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat, khususnya bagi para pelaku UMKM.
Selain itu, ia juga terlibat dalam kegiatan edukasi, seperti mengajar kelas “fun cooking” di sejumlah sekolah di wilayah Jabodetabek. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk kontribusinya dalam berbagi ilmu sekaligus menumbuhkan minat kewirausahaan sejak dini.
Bagi Indra, kunci utama dalam membangun usaha adalah mental, keberanian, dan kemampuan membangun relasi. Ia menekankan pentingnya memiliki tujuan yang jelas sejak awal, terutama bagi para Pekerja Migran Indonesia yang masih bekerja di luar negeri.
“Kita harus tahu tujuan kita bekerja itu untuk apa. Kalau ingin berwirausaha, siapkan sejak awal—mulai dari menabung, mencari relasi, hingga menentukan bidang usaha,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa pengalaman sebagai pekerja migran merupakan nilai tambah yang dapat menjadi modal dalam membangun usaha. Disiplin, tanggung jawab, dan etos kerja yang terbentuk selama bekerja di luar negeri menjadi bekal penting dalam menghadapi dinamika dunia usaha.
Kisah Indra Rusliawan menjadi contoh nyata bagaimana Pekerja Migran Indonesia purna dapat bertransformasi menjadi pelaku usaha mandiri. Dengan dukungan program pemberdayaan dari KP2MI, serta tekad dan kerja keras, ia berhasil membangun usaha yang tidak hanya menopang ekonomi keluarga, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.** (Humas/SM)