Dari Pekerja Migran ke Pengusaha: Asmuni dan Perjalanan Membangun Rumah Makan Sukma Rasa
-
Dari Pekerja Migran ke Pengusaha: Asmuni dan Perjalanan Membangun Rumah Makan Sukma Rasa
Lombok Barat, KemenP2MI (12/12) - Kisah ini tentang pelangi setelah hujan. Jatuh bangun, air mata, dan doa-doa yang dipanjatkan seorang anak manusia untuk hidup yang lebih baik.
Perkenalkan. Namanya Asmuni. Dulunya bekerja di pabrik injeksi plastik Korea Selatan pada 2004. Setelah kontrak kerjanya selesai, Asmuni kembali ke Indonesia, Lombok Barat, NTB.
Pada 2008 sampai 2012, Asmuni mulai membuka usaha. Mulai dari usaha sablon, pengiriman barang ke Korea, counter handphone, dan restoran. Jatuh bangun dan sempat putus usaha sempat dirasakan Asmuni. Apalagi salah satu restoran yang pernah ia buka pernah kena musibah kebakaran.
“Tidak ada yang tahu selama berwirausaha lima tahun tersebut, saya jatuh bangun, hampir berputus asa, karena usaha yang saya jalankan masih belum menghasilkan keuntungan,” ujar Asmuni di Lombok Barat, NTB, beberapa waktu lalu.
Tapi pertolongan selalu datang di waktu yang tepat agar Asmuni kembali bangkit dan memperbaiki usahanya. Salah satunya dengan pemberdayaan, pembinaan usaha oleh Kepala Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Nusa Tenggara Barat (NTB).
“Lima tahun saya mengalami kegagalan, ternyata yang dibentuk adalah mental pengusaha dulu, bukan profit," ucap Asmuni.
Sampai akhirnya Asmuni membuka Rumah Makan Sukma Rasa setelah mengalami rangkaian kegagalan. Ia putar otak sampai akhirnya pelangi itu muncul dengan enam cabang restoran dengan ratusan pegawai.
"Sebagian besar adalah purna pekerja migran juga. Ada yang eks-Jepang, eks-Taiwan, eks-Abu Dhabi, eks-Saudi, eks-Malaysia, dan lain sebagainya,” jelasnya.
Asmuni tidak ingin pencapaian ini membuatnya puas. Ia ingin berjuang lebih jauh, lebih sukses, dan menyebarkan perjuangannya kepada rekan-rekan pekerja migran yang lainnya.
“Saya kembali mengunjungi Korea Selatan bukan sebagai pekerja migran, tetapi membawa martabat Bangsa Indonesia, bersilaturahmi kepada bos saya dulu di Korea, berterima kasih kepada beliau karena sudah menampung saya kerja dulu. Bos saya sampai terharu, karena anak buahnya yang menjadi pengusaha, termasuk langka,” ujarnya.
Pada Rabu, 11 Desember lalu, Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia, Abdul Kadir Karding menyempatkan diri mengunjungi Asmuni di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Menteri Karding didampingi Pj. Gubernur NTB, Hassanudin, serta Anggota Komisi IX DPR, Muazzim Akbar. Menteri Karding kagum dengan prestasi dan capaian Asmuni. Ia juga ingin menyebarluaskan cerita sukses Asmuni yang tidak selalu mulus, tapi mempunyai akhir yang manis dalam perjuangannya
"Bisa ada orang hebat dan tangguh seperti Pak Asmuni. Hebatnya lagi, Pak Asmuni merekrut para purna pekerja migran Indonesia sebagai pegawainya," ucap Karding.
Karding ingin sekali Asmuni punya media sosial, seperti Youtube, sebagai corong komunikasi publik atas cerita sukses Pekerja Migran. Karding mengaku, selama ini publik hanya tahu cerita sedih dan derita para pekerja migran, cerita suksesnya jarang ditemui.
“Ini yang menjadi harapan saya selama ini. Saya ingin Pak Asmuni menjadi role-model bagi pemberdayaan dan pembinaan bagi pekerja migran purna di seluruh Indonesia. Kalau kata orang sekarang, Menyala Abangku!” pungkasnya.
Asmuni menganggap kehadiran Menteri P2MI, BP3MI NTB, serta para pejabat lainnya sebagai oksigen untuk menyambung nafas semangatnya. Ia ingin menunjukkan kepada para pekerja migran Indonesia yang telah habis masa kontraknya, bahwa sukses dapat diraih di negara sendiri.
“Saya berterima-kasih kepada para pejabat semua yang berkunjung ke rumah makan saya. Harapan saya berikutnya Presiden Prabowo yang akan berkunjung ke sini,” tutup Asmuni.