Monday, 20 April 2026
logo

Berita

Berita Utama

Jejak Eni Wartuti Menembus Pasar Dunia, Dari Pekerja Migran yang Sukses Jadi Pengusaha

-

00.04 20 April 2026 37

Jejak Eni Wartuti Menembus Pasar Dunia, Dari Pekerja Migran yang Sukses Jadi Pengusaha

Jakarta, KP2MI (20/4) - Langkah itu dimulai dari kebutuhan. Dari sebuah kampung di Kebumen, Jawa Tengah seorang perempuan bernama Eni Wartuti memutuskan bekerja  ke luar negeri untuk bukan sekadar mencari nafkah, tetapi mengubah nasib.

Hari ini, setelah lebih dari 15 tahun menjadi pekerja migran Indonesia di tiga negara berbeda Arab Saudi, Taiwan dan Hongkong, Eni berdiri sebagai pengusaha yang produknya telah menjangkau pasar internasional.Perjalanannya bukan cerita instan, melainkan rangkaian panjang perjuangan, adaptasi, dan keberanian mengambil peluang bekerja di luar negeri.

Pilihan yang Mengubah Arah Hidup

Seperti banyak warga di daerahnya, keputusan Eni menjadi Pekerja Migran Indonesia dilatarbelakangi kondisi ekonomi keluarga. Budaya merantau yang kuat di kampungnya juga menjadi dorongan tersendiri.

“Saya melihat sendiri bagaimana kehidupan tetangga berubah setelah bekerja di luar negeri. Dari situ muncul keyakinan, saya juga bisa,” kisahnya saat dihubungi Humas KP2MI, Rabu 15 April 2026.

Negara demi negara ia lalui  mulai dari Arab Saudi  selama kurang lebih dua tahun dari 1998-2000, berlanjut ke Taiwan tiga tahun dari 2000-2003, dan terakhir ke Hong Kong dari 2004-2014 yang  hampir satu dekade. Menurutnya,  setiap tempat menghadirkan cerita dan tantangan yang berbeda.

Awal keberangkatan bukanlah masalah yang mudah. Perbedaan bahasa menjadi tembok pertama yang harus ditembus. Di sisi lain, ia juga harus beradaptasi dengan budaya kerja yang disiplin, makanan yang berbeda, hingga tekanan mental akibat jarak dengan keluarga.

Namun, dari situlah ia belajar.

“Kita harus kuat secara mental. Jangan bawa masalah keluarga ke tempat kerja, karena itu bisa memengaruhi pekerjaan,” ungkapnya.

Dari pengalaman tersebut, Eni menempa diri menjadi pribadi yang lebih disiplin, tangguh, dan adaptif. Ia juga berhasil menguasai beberapa bahasa asing modal penting yang kelak membuka banyak peluang.

Pulang dan Memulai dari Nol

Tahun 2014 menjadi titik balik, Eni memutuskan kembali ke Indonesia dengan membawa pengalaman, jaringan, dan tekad untuk mandiri.

Ia mulai merintis usaha dari bawah. Berbagai sektor pernah ia jalani sepeeri ekspor-impor barang kebutuhan Pekerja Migran Indonesia, bisnis fashion, ekspedisi, hingga properti. Semua itu menjadi proses pembelajaran yang berharga.

Kini, selama sekitar lima tahun terakhir, ia fokus mengembangkan usaha kopi melalui brand Gandasari Coffee di bawah naungan PT. Gandasari Agritech Nusantara.
Tak hanya kopi, ia juga mengembangkan produk makanan untuk kebutuhan Pekerja Migran Indonesia serta inovasi minuman fermentasi tradisional seperti legen.

Menembus Pasar Internasional

Perlahan tapi pasti, usaha Eni mulai menemukan jalannya. Dengan mengandalkan kolaborasi B2B, jaringan petani, serta dukungan logistik yang dibangun secara bertahap, produknya kini telah menembus berbagai negara.

Mulai dari Jerman, Rusia, Nigeria, hingga Jepang, Korea, Singapura, Malaysia, Maroko, dan Mesir.
Meski omzet usahanya saat ini masih fluktuatif di kisaran 30 Juta sampai dengan 35 juta per bulan, peluang besar terus terbuka. Ia bahkan pernah mendapatkan tawaran kontrak dalam skala besar, meski masih dalam tahap penjajakan.

“Yang penting kita terus konsisten dan jaga kualitas. Peluang itu pasti datang,” ujarnya.

Kolaborasi Jadi Kunci

Dalam perjalanannya, Eni tidak berjalan sendiri. Ia aktif berkolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari Kementerian Perdagangan, bea cukai, karantina, hingga KP2MI.

Melalui berbagai pameran, bazar, dan program verifikasi mitra internasional, ia mendapatkan akses pasar yang lebih luas. Tak hanya itu, ia juga aktif berbagi ilmu sebagai narasumber pelatihan kewirausahaan, membina UMKM, hingga mendampingi petani kopi.

Jadi Migran, Lalu Pulang Jadi Juragan

Bagi Eni, menjadi Pekerja Migran Indonesia bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang menuju kemandirian ekonomi. Ia berpesan agar calon Pekerja Migran Indonesia mempersiapkan diri dengan matang, terutama dari sisi bahasa dan mental.

“Jangan takut belajar. Dan yang paling penting, jangan habiskan semua penghasilan. Sisihkan untuk modal masa depan,” tegasnya.

Baginya, pengalaman bekerja di luar negeri harus menjadi batu loncatan untuk naik kelas dari pekerja menjadi pengusaha.

“Migran itu harus bisa naik level. Dari pekerja, jadi juragan,” katanya penuh semangat.

Transformasi yang Menginspirasi

Kisah Eni adalah cermin bahwa pekerja migran Indonesia bukan sekadar tenaga kerja, melainkan individu tangguh yang memiliki potensi besar untuk berkembang.
Dengan mindset yang tepat, kemampuan adaptasi, serta keberanian berinovasi, perjalanan dari perantau menjadi pengusaha bukanlah hal yang mustahil.

Eni berpesan, di balik setiap langkah ke luar negeri, selalu ada peluang untuk kembali dengan membawa perubahan bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi banyak orang di sekitarnya.** (Humas/AR)