Perkuat Sinergi dan Kolaborasi, Kementerian P2MI Audiensi dengan LPP Argo Nusantara
-
Perkuat Sinergi dan Kolaborasi, Kementerian P2MI Audiensi dengan LPP Argo Nusantara
Yogyakarta (30/12) – Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KemenP2MI) melakukan audiensi dengan Lembaga Pelatihan Pendidikan (LPP) Argo Nusantara untuk memperkuat sinergi dan kolaborasi penempatan Pekerja Migran Indonesia (PMI).
"Lewat kolaborasi dengan berbagai stakholder persiapan untuk calon pekerja migran sebelum diberangkatkan ke luar negeri akan lebih matang dan baik," ujar Direktur Jenderal Penempatan Kementerian P2MI Ahnas, di LPP Argo Nusantara, Selasa, 30/12/2025.
Dirjen Ahnas mengatakan upaya kerja sama dengan pemerintah daerah dan stakeholder menjadi pengalaman penting karena jenis pekerjaannya juga berkembang di sejumlah negara Eropa.
Saat ini, peluang penempatan pekerja migran terbuka di sejumlah negara seperti Inggris, Selandia Baru, Australia, serta kawasan Asia. Meski demikian, Ahnas menegaskan seluruh program mengedepankan kualitas dan kesiapan tenaga kerja.
Menurutnya, fokus utama penyiapan pekerja migran diarahkan pada pelatihan keterampilan kerja, penguatan serta pemahaman menyeluruh terhadap bidang pekerjaan yang akan digeluti. Selain kompetensi teknis, calon pekerja migran juga dibekali kemampuan nonteknis.
“Yang kita siapkan itu bagaimana mereka benar-benar siap bekerja. Mulai dari keterampilan, pengetahuan pekerjaan, sampai bahasa, dan kemampuan,” jelasnya.
Dalam skema penempatan, pemerintah mendorong penguatan berbagai model kerja sama. Selain skema government to government (G to G) dan government to private (G to P), KemenP2MI juga mengembangkan skema private to private (P to P) yang dijalankan oleh Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI).
“P3MI kita dorong agar ke depan lebih profesional dalam menata ruang penempatan pekerja migran,” tegas Ahnas.
Dirjen Ahnas menambahkan, penataan penempatan pekerja migran tersebut sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2017, yang menandai perubahan paradigma dari Tenaga Kerja Indonesia (TKI) menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI). Perubahan ini tidak sekadar nomenklatur, melainkan mencerminkan pendekatan baru dalam aspek pelindungan dan profesionalisme.
“Dulu penempatan masih didominasi sektor domestik. Sekarang kita arahkan ke sektor menengah dan profesional,” ujarnya.
Dirjen Ahnas menyebut, hingga saat ini peluang penempatan pekerja migran masih sangat terbuka. Bahkan untuk tahun 2026, kebutuhan tenaga kerja di sejumlah negara cukup besar.
“Kuotanya besar dan belum seluruhnya bisa terisi. Tahun ini saja penempatan kita sudah di kisaran 200 ribu lebih, dan peluangnya masih terbuka lebar,” pungkasnya.
Sementara itu, Direktur Jenderal Promosi dan Pemanfaatan Peluang Kerja Luar Negeri KemenP2MI, Dwi Setiawan Susanto, mengungkapkan pemerintah terus menyiapkan Migrant Center sebagai pusat layanan terpadu bagi calon pekerja migran.
Migrant Center akan menyediakan layanan informasi, pelatihan, sertifikasi, hingga pendampingan penempatan kerja ke luar negeri. Fokus awal pengembangannya diarahkan pada sektor agro, seperti pertanian, farming, dan kehutanan.
“Pengembangannya akan melibatkan pendidikan vokasi dan perguruan tinggi agar lulusan memiliki kualifikasi teknis yang sesuai dengan kebutuhan industri global,” ujar Dwi.
Di sisi lain, SEVP Operation PT Lembaga Pendidikan Perkebunan (LPP) Agro Nusantara, Pugar Indriawan, menegaskan komitmen pihaknya dalam memperkuat pengembangan sumber daya manusia (SDM), riset, serta pemasaran terintegrasi melalui berbagai unit riset strategis.
LPP Agro saat ini menaungi sejumlah pusat riset komoditas strategis, mulai dari kelapa sawit, teh, kopi, gula, hingga komoditas basah lainnya yang berada dalam satu ekosistem riset dan bisnis.
“Kalau belum pernah dengar LPP Agro, itu karena kami bekerja berbasis fungsi,” ujar Pugar.
Ke depan, LPP Agro akan diperkuat sebagai identitas bersama kawasan industri hilir tanpa meninggalkan fungsi utamanya sebagai lembaga pendukung produksi dan inovasi.
“Yang penting produksinya berjalan baik. Namun ke depan, LPP kami dorong menjadi brand bersama kawasan industri hilir,” katanya.
Menurutnya, penguatan fungsi penyimpanan, riset, dan pemasaran yang terintegrasi menjadi kunci keberlanjutan industri berbasis komoditas nasional di tengah tantangan global.
Saat ini, LPP Argo dikembangkan dalam tiga fungsi utama, yakni sebagai wadah pembinaan SDM, sarana pendidikan dan pengembangan kompetensi, serta ruang pembelajaran bagi generasi muda yang dipersiapkan masuk ke dunia industri.
“LPP Argo juga fokus pada sertifikasi profesi perkebunan untuk memastikan tenaga kerja yang dihasilkan benar-benar sesuai standar industri,” tutupnya.*