KP2MI Perkuat Kompetensi Calon Pekerja Migran Indonesia dengan Standar Global
-
Wakil Menteri P2MI, Dzulfikar Ahmad Tawalla, berkomitmen tingkatkan kualitas calon Pekerja Migran Indonesia, Kamis (9/4/2026).
Bekasi, KP2MI (09/04) – Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) melalui program-program strategisnya terus berupaya untuk perkuat kompetensi Calon Pekerja Migran Indonesia dengan standar global. Demikian ditekankan Wakil Menteri P2MI, Dzulfikar Ahmad Tawalla, dalam sambutannya saat mengunjungi PT Wihe Yeon Gyo Indonesia, di Cikarang, Kab. Bekasi, pada Kamis (9/4/2026).
Didampingi Direktur Jenderal Promosi dan Pemanfaatan Peluang Kerja Luar Negeri, Dwi Setiawan Susanto. dan Direktur Penempatan Non Pemerintah pada Pemberi Kerja Berbadan Hukum, Nurhayati, Wamen Dzulfikar mengatakan, saat ini sejumlah Calon Pekerja Migran Indonesia telah memasuki tahap akhir pelatihan (upskill) dan dinyatakan 100% siap untuk ditempatkan di Korea Selatan.
Dalam arahannya kepada para calon Pekerja Migran Indonesia, Wamen Dzulfikar menegaskan bahwa peningkatan kompetensi merupakan instruksi langsung dari Presiden Prabowo Subianto. Pemerintah, lanjutnya, sangat serius dalam memastikan tenaga kerja Indonesia memiliki keahlian yang mumpuni, mulai dari keterampilan teknis (hard skill) seperti welder (tukang las), nurse (perawat), hingga sektor hospitality, serta keterampilan dasar dan kemampuan bahasa yang kuat.
“Bapak Presiden Prabowo Subianto sangat concern terhadap peningkatan skill dasar dan bahasa. Melalui program ‘SMK Go Global’, pemerintah berupaya memastikan calon pekerja kita mendapatkan akses pelatihan yang layak dan berkualitas sebelum berangkat ke luar negeri,” ujar Dzulfikar.
Ia mengatakan, dalam kancah global Pekerja Migran Indonesia memiliki sejumlah keunggulan dalam hal attitude, solidaritas, dan etos kerja.
"Berdasarkan tinjauan di beberapa negara Eropa, seperti Slovakia (Bratislava) dan Polandia (Warsawa), Pekerja Migran Indonesia, khususnya di sektor welder, mendapatkan apresiasi tinggi dari para pemberi kerja (owner)", jelas Dzulfikar.
Pertama, lanjutnya, attitude yang baik, cara berkomunikasi dan menempatkan diri yang sopan di lingkungan kerja. Kedua, aolidaritas Tinggi. Para Pekerja Migran Indonesia memiliki rasa kebersamaan yang kuat dan saling membantu antar sesama rekan kerja. Dan ketiga, etos kerja yang kuat, memiliki semangat kerja yang tinggi, jujur, dan memiliki disiplin yang baik, termasuk kesediaan untuk bekerja lembur jika dibutuhkan.
Wamen Dzulfikar melanjutkan, apresiasi ini berbanding lurus dengan kesejahteraan yang diterima. Sebagai gambaran, pendapatan rata-rata untuk posisi welder di Bratislava berkisar antara Rp 60 juta hingga Rp 80 juta per bulan.
“Jangan hanya bekerja, tapi serap ilmunya. Jika hari ini ada 30 orang yang dilatih, dalam beberapa tahun ke depan kita berharap akan lahir ribuan tenaga terlatih baru hasil dari transfer ilmu kalian. Bangun martabat keluarga dan bantu ekonomi masyarakat,” tambah Dzulfikar
Di akhir sambutannya, Wamen Dzulfikar menekankan bahwa tugas sebagai Pekerja Migran Indonesia adalah tugas yang mulia, setara dengan pengabdian pejabat negara karena kontribusinya langsung terhadap kesejahteraan keluarga dan devisa negara.
"Pemerintah berkomitmen untuk terus mengutamakan pelindungan bagi seluruh Pekerja Migran Indonesia yang bekerja di luar negeri", pungkas Dzulfikar.**