Monday, 12 January 2026
logo

Berita

Berita Utama

Wamen Christina-KBRI Sarajevo Jajaki Peluang Penempatan Pekerja Migran ke Bosnia dan Herzegovina

-

00.01 8 January 2026 13

Wamen Christina-KBRI Sarajevo Jajaki Peluang Penempatan Pekerja Migran ke Bosnia dan Herzegovina

Jakarta, KemenP2MI (8/1) - Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (Wamen P2MI) Christina Aryani, membahas potensi penempatan pekerja migran Indonesia ke Bosnia dan Herzegovina dengan Duta Besar Indonesia untuk Sarajevo, Manahan M.P. Sitompul secara daring, Kamis (8/1/2025).

Selain potensi penempatan pekerja migran, Wamen Christina dan KBRI Sarajevo juga membahas penguatan sinergi lintas kementerian dan perwakilan Indonesia di luar negeri, utamanya untuk sektor pekerja migran.

Ia menyampaikan, Pemerintah Bosnia dan Herzegovina tertarik terhadap kerja sama penempatan pekerja migran skema Government to Government (G2G), yang disampaikan delegasi Labor and Employment Agency Bosnia dan Herzegovina yang berkunjung ke Indonesia pada 16 Desember lalu.

"Minat kerja sama G2G tentu menjadi peluang, tetapi kami memilih untuk menahan langkah tersebut sementara waktu. Kami ingin menyamakan persepsi lebih dulu dengan KBRI Sarajevo agar mendapatkan gambaran yang utuh mengenai kondisi ketenagakerjaan, kebutuhan riil, serta kebijakan di Bosnia dan Herzegovina," kata Wamen Christina.

Sepanjang 2024 terdapat 46 pekerja migran yang ditempatkan ke Bosnia dan Herzegovina, sementara di 2025 tercatat 8 orang. 

"Angka ini sangat mungkin belum mencerminkan kondisi faktual di lapangan, karena ada potensi keberangkatan nonprosedural atau pekerja yang masuk dengan visa kunjungan," jelas Wamen Christina.

Adapun sektor pekerjaan yang saat ini didominasi pekerja migran Indonesia di Bosnia dan Herzegovina adalah sektor hospitality, seperti waiter, asisten koki, dan barista, dengan skema penempatan mayoritas melalui private to private (P2P) dan sebagian skema mandiri. *

Lebih lanjut, Wamen Christina menekankan, Indonesia memiliki potensi besar sebagai negara penyedia tenaga kerja global, seiring bonus demografi yang dimiliki, sementara banyak negara Eropa menghadapi tantangan penuaan penduduk (aging population) dan kekurangan tenaga kerja produktif.

Berdasarkan pemetaan yang dilakukan kementeriannya, sektor-sektor yang dinilai potensial antara lain kesehatan, hospitality, industri otomotif, manufaktur, serta juru las atau welder yang tengah menjadi tren kebutuhan global. 

"Indonesia dinilai memiliki keunggulan dari sisi pasokan tenaga kerja terampil, terutama melalui pendidikan vokasi," jelasnya.

Wamen Christina berharap dukungan aktif dari KBRI Sarajevo untuk memetakan kebutuhan riil pasar kerja di Bosnia dan Herzegovina, termasuk kebijakan ketenagakerjaan dan keimigrasian setempat. 

"Informasi ini akan menjadi dasar penting dalam merancang skema penempatan yang aman, legal, dan berkelanjutan. Kami juga membuka peluang kerja sama di bidang pelatihan dan sertifikasi, termasuk jika negara tujuan ingin terlibat langsung memastikan kesesuaian kurikulum dengan kebutuhan mereka. Pola seperti ini sudah mulai diminati beberapa negara, termasuk untuk sektor pelaut dan anak buah kapal," imbuhnya.